Senin, 15 April 2013

Renuungan-Ketekunan



Bacaan : Yoh. 13:1
Saudara-saudari yang terkasih kalau ada pertanyaan lebih sakit mana disunat atau melahirkan. Jawabnya jelas lebih sakit disunat lha wong disunat sekali aja sudah kapok kalau melahirkan bisa berkali-kali. Hari ini mas Aji akan disunat. Dalam tradisi di Israel sejak jaman Abraham laki-laki harus disunat sebagai bentuk tanda perjanjian Tuhan dengan Abraham dan keturunannya dan tradisi ini diteruskan oleh umat Islam. Bagi kita orang Kristen sunat atau tidak disunat tidak diwajibkan tapi dalam kenyataannya sunat memang diperlukan untuk menjaga kesehatan alat reproduksi pria.
Pada umumnya sunat atau circumcision dilaksanakan pada anak laki-laki yang menginjak dewasa meskipun ada juga karena pengaruh keyakinan tertentu ada anak yang sejak bayi disunat. Di beberapa kalangan wanita juga disunat. Saat ini Mas Aji sudah berumur 11 tahun dalam perkembangan jiwa sudah mulai memasuki masa transisi dari anak-anak ke remaja. Banyak orang mengatakan bahwa kematangan hidup seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh mulus tidaknya dia melalui masa transisi ini.
Kita masih ingat dalam pertemuan beberapa waktu yang lalu disampaikan bahwa apa yang sering kita lakukan sehari-hari akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan yang sering kita kerjakan akan mempengaruhi bentuk watak/karakter dan kepribadian kita. Tiap orang memiliki pengalaman, kebiasaan, pembawaan dan lingkungan yang berbeda sehingga karakternya tidak sama. Kepribadian individu khas dan unik bahkan orang kembarpun masih memiliki perbedaan.
Orang tua berharap anak-anaknya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik di lingkungan yang baik  sehingga sehingga dapat terbentuk kepribadian dan watak yang baik. Watak yang baik menunjang moralitas yang baik pula yang  kita perlukan sebagai pengikut Kristus dalam melaksanakan ajaran cinta kasih.
Dalam kenyataannya menjadi baik tidak gampang. Tidak cukup hanya dengan membaca buku, mendengarkan ceramah atau melihat contoh tetapi lebih pada praktek mengendalikan diri, semangat dari dalam diri sendiri untuk berjuang. Banyak cobaan dan godaan untuk berbuat baik. Tinggal bagaimana kita memiliki daya tahan. Mental instant telah menyurutkan daya tahan. Orang mau cepat mendapat tanpa kerja berat. Ingin cepat sukses dengan cara “hewes-hewes”! Orang suka menempuh jalan pintas. Ketekunan dilibas rasa malas.
Pelajar-pelajar ingin naik kelas dan lulus tanpa belajar. Kaum pekerja menuntut bayaran tinggi, tetapi tanggung jawab dihindari. Sebagian Wakil rakyat berusaha memperkaya diri. Kalau bisa sukses dengan korupsi, kenapa mesti sekolah tinggi-tinggi.
Logika dan cara kerja pun terbalik semua. Yang hidup jujur dan bijaksana dianggap gila. Orang yang bekerja secara lurus dinilai bakal mampus. Mungkin karena tercipta dari tanah manusia menjadi makhluk yang lemah, rapuh dan mudah jatuh. Segala yang baik selalu diingini, namun tak mampu dihayati. Sesuatu yang indah hendak digapai, tetapi tidak mudah mencapai. Dalam kondisi ini mungkin manusia akan putus asa karena harapannya tidak terkabul atau manusia akan sabar menanti karena masih ada esok hari.
Sejarah keselamatan manusia tidak pernah berlangsung dengan gampang. Banyak nabi menjadi korban. Mereka ditolak, dicemooh, dan dibunuh. Setan selalu berada di sisi yang berbeda untuk merusak relasi manusia dengan Allah.
Yesus, Putra Allah harus menjalani hidup yang sangat sulit. Setan tidak pernah mau mengalah sedikitpun. Di saat kritis penuh krisis, Yesus ditinggal sendirian. Beban yang ditanggung Yesus sebgai Putera  Allah sungguh-sungguh berat. Namun, Ia mau bertahan sampai akhir. Ia mau bertahan sampai akhir. Ia bertekun dalam hidup dan karya seturut kehendak Bapa. Tak ada sejengkal ruang dihatinya untuk mengalah pada setan dan dosa.
Yesus berjuang sampai saat terakhir. Dia mengasihi murid-murid  hingga kesudahannya. Dia mengajar murid-muridnya baik melalui kata maupun perbuatan. Tatkala Petrus tidak memahami ajaran-Nya dan mau menolak teladan-Nya, Dia dengan sabar membimbing dan meyakinkannya. Itu hanya mungkin dilakukan, ketika Dia memiliki ketekunan.
Santo Paulus menulis “ . . . kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5 :3-4). Berkat pengharapan, orang mampu bertahan dalam kesulitan.
Ketekunan adalah suatu sifat dan karunia. Tuhan adalah sumber ketekunan dan penghiburan. Karena ketekunan adalah pemberian dari-Nya maka manusia mesti menanggapi dengan sikap yang tekun dan usaha yang keras untuk mengarahkan tindakan yang baik secara tetap. Untuk menjadi pribadi yang tekun tidak sekali jadi ia perlu berproses dalam pelbagai kejemuan, godaan, dan tantangan.
            Salah satu tanda ketekunan ialah berjuang sampai saat terakhir. Bekerja setengah-setengah, serba mendadak, dan mau segera sampai puncak mencerminkan hidup yang dangkal. Kita membutuhkan ketekunan. Hanya berbekal kepandaian, banyak orang terperosok. Tanpa ketekunan orang beriman tidak akan sampai ke rumah Bapa.
Ajaran Kristus yang telah kita imani mesti diolah dengan ketekunan yang tak kunjung henti. Yesus mengalahkan maut telah menjadi tanda bahwa Ia tidak hanya bersabda, tetapi juga bertindak. Mari kita juga berusaha melakukan  tindakan-tindakan yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita. Kita berusaha memberikan pendampingan, bimbingan, perhatian dan lingkungan yang baik pada generasi muda kita. Agar mereka bisa bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa dan mandiri serta ketekunan menjadi suatu bentuk sikap mental  dalam bertahan dan memperjuangkan hidupnya.
Sikap tekun dalam iman dan kasih sesungguhnya karunia Tuhan. Usaha kita akan hampa tanpa kekuatan-Nya. Maka ketekunan bukan hanya menjadi syarat untuk berdoa, tetapi harus menjadi doa. Artinya, dalam anugerah ketekunan, doa dan karya menjadi relasi cinta Allah dengan kita senantiasa. Amin
Mari kita hening sejenak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar