Bacaan : Yoh. 13:1
Saudara-saudari yang terkasih kalau ada pertanyaan
lebih sakit mana disunat atau melahirkan. Jawabnya jelas lebih sakit disunat
lha wong disunat sekali aja sudah kapok kalau melahirkan bisa berkali-kali.
Hari ini mas Aji akan disunat. Dalam tradisi di Israel sejak jaman Abraham
laki-laki harus disunat sebagai bentuk tanda perjanjian Tuhan dengan Abraham
dan keturunannya dan tradisi ini diteruskan oleh umat Islam. Bagi kita orang
Kristen sunat atau tidak disunat tidak diwajibkan tapi dalam kenyataannya sunat
memang diperlukan untuk menjaga kesehatan alat reproduksi pria.
Pada umumnya sunat atau circumcision dilaksanakan pada
anak laki-laki yang menginjak dewasa meskipun ada juga karena pengaruh
keyakinan tertentu ada anak yang sejak bayi disunat. Di beberapa kalangan
wanita juga disunat. Saat ini Mas Aji sudah berumur 11 tahun dalam perkembangan
jiwa sudah mulai memasuki masa transisi dari anak-anak ke remaja. Banyak orang
mengatakan bahwa kematangan hidup seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh
mulus tidaknya dia melalui masa transisi ini.
Kita masih ingat dalam pertemuan beberapa waktu yang
lalu disampaikan bahwa apa yang sering kita lakukan sehari-hari akan menjadi
kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan yang sering kita kerjakan akan mempengaruhi bentuk
watak/karakter dan kepribadian kita. Tiap orang memiliki pengalaman, kebiasaan,
pembawaan dan lingkungan yang berbeda sehingga karakternya tidak sama.
Kepribadian individu khas dan unik bahkan orang kembarpun masih memiliki
perbedaan.
Orang tua berharap anak-anaknya memiliki
kebiasaan-kebiasaan yang baik di lingkungan yang baik sehingga sehingga dapat terbentuk kepribadian
dan watak yang baik. Watak yang baik menunjang moralitas yang baik pula yang kita perlukan sebagai pengikut Kristus dalam
melaksanakan ajaran cinta kasih.
Dalam kenyataannya menjadi baik tidak gampang. Tidak
cukup hanya dengan membaca buku, mendengarkan ceramah atau melihat contoh
tetapi lebih pada praktek mengendalikan diri, semangat dari dalam diri sendiri
untuk berjuang. Banyak cobaan dan godaan untuk berbuat baik. Tinggal bagaimana
kita memiliki daya tahan. Mental instant telah menyurutkan daya tahan. Orang
mau cepat mendapat tanpa kerja berat. Ingin cepat sukses dengan cara
“hewes-hewes”! Orang suka menempuh jalan pintas. Ketekunan dilibas rasa malas.
Pelajar-pelajar ingin naik kelas dan lulus tanpa
belajar. Kaum pekerja menuntut bayaran tinggi, tetapi tanggung jawab dihindari.
Sebagian Wakil rakyat berusaha memperkaya diri. Kalau bisa sukses dengan
korupsi, kenapa mesti sekolah tinggi-tinggi.
Logika dan cara kerja pun terbalik semua. Yang hidup
jujur dan bijaksana dianggap gila. Orang yang bekerja secara lurus dinilai
bakal mampus. Mungkin karena tercipta dari tanah manusia menjadi makhluk yang
lemah, rapuh dan mudah jatuh. Segala yang baik selalu diingini, namun tak mampu
dihayati. Sesuatu yang indah hendak digapai, tetapi tidak mudah mencapai. Dalam
kondisi ini mungkin manusia akan putus asa karena harapannya tidak terkabul
atau manusia akan sabar menanti karena masih ada esok hari.
Sejarah keselamatan manusia tidak pernah berlangsung
dengan gampang. Banyak nabi menjadi korban. Mereka ditolak, dicemooh, dan
dibunuh. Setan selalu berada di sisi yang berbeda untuk merusak relasi manusia
dengan Allah.
Yesus, Putra Allah harus menjalani hidup yang sangat
sulit. Setan tidak pernah mau mengalah sedikitpun. Di saat kritis penuh krisis,
Yesus ditinggal sendirian. Beban yang ditanggung Yesus sebgai Putera Allah sungguh-sungguh berat. Namun, Ia
mau bertahan sampai akhir. Ia mau bertahan sampai akhir. Ia bertekun dalam
hidup dan karya seturut kehendak Bapa. Tak ada sejengkal ruang dihatinya untuk
mengalah pada setan dan dosa.
Yesus berjuang sampai saat terakhir. Dia mengasihi
murid-murid hingga kesudahannya. Dia
mengajar murid-muridnya baik melalui kata maupun perbuatan. Tatkala Petrus
tidak memahami ajaran-Nya dan mau menolak teladan-Nya, Dia dengan sabar
membimbing dan meyakinkannya. Itu hanya mungkin dilakukan, ketika Dia memiliki
ketekunan.
Santo Paulus menulis “ . . . kesengsaraan itu
menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji
menimbulkan pengharapan” (Rm 5 :3-4). Berkat pengharapan, orang mampu bertahan
dalam kesulitan.
Ketekunan adalah suatu sifat dan karunia. Tuhan adalah
sumber ketekunan dan penghiburan. Karena ketekunan adalah pemberian dari-Nya
maka manusia mesti menanggapi dengan sikap yang tekun dan usaha yang keras
untuk mengarahkan tindakan yang baik secara tetap. Untuk menjadi pribadi yang
tekun tidak sekali jadi ia perlu berproses dalam pelbagai kejemuan, godaan, dan
tantangan.
Salah
satu tanda ketekunan ialah berjuang sampai saat terakhir. Bekerja
setengah-setengah, serba mendadak, dan mau segera sampai puncak mencerminkan
hidup yang dangkal. Kita membutuhkan ketekunan. Hanya berbekal kepandaian,
banyak orang terperosok. Tanpa ketekunan orang beriman tidak akan sampai ke
rumah Bapa.
Ajaran Kristus yang telah kita imani mesti diolah
dengan ketekunan yang tak kunjung henti. Yesus mengalahkan maut telah menjadi
tanda bahwa Ia tidak hanya bersabda, tetapi juga bertindak. Mari kita juga
berusaha melakukan tindakan-tindakan
yang baik sehingga bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita. Kita berusaha
memberikan pendampingan, bimbingan, perhatian dan lingkungan yang baik pada
generasi muda kita. Agar mereka bisa bertumbuh dan berkembang menjadi dewasa
dan mandiri serta ketekunan menjadi suatu bentuk sikap mental dalam bertahan dan memperjuangkan hidupnya.
Sikap tekun dalam iman dan kasih sesungguhnya karunia
Tuhan. Usaha kita akan hampa tanpa kekuatan-Nya. Maka ketekunan bukan hanya
menjadi syarat untuk berdoa, tetapi harus menjadi doa. Artinya, dalam anugerah
ketekunan, doa dan karya menjadi relasi cinta Allah dengan kita senantiasa.
Amin
Mari kita hening sejenak.

